Artefak yang Tidak Pernah Menjawab
Aku datang dengan niat sederhana: melihat peninggalan masa lalu. Tidak Lebih. Tidak kurang. Ruang itu sunyi, seperti sengaja dibiarkan kosong agar pengunjung bisa mendengarkan pikirannya sendiri. Di balik kaca, artefak-artefak tersusun rapi; diam, utuh, dan seolah tidak peduli pada siapa pun yang memandangnya. Aku berdiri cukup lama di depan salah satunya, lebih lama dari pengunjung lain. Bukan karena bentuknya paling menarik, tapi karena entah kenapa, ia membuatku merasa sedang ditatap balik. Dulu, aku selalu berpikir masa lalu itu tetap. Tugas kita hanya menemukannya, memahaminya, lalu menjelaskannya seakurat mungkin. Seperti membuka buku lama yang isinya sudah ditentukan sejak halaman pertama. Tapi di ruangan ini, pikiran itu mulai retak. Artefak yang sama pernah dijelaskan dengan cara yang berbeda di buku, di kelas, bahkan di antara obrolan santai. Ada yang melihatnya sebagai bukti kejayaan , ada pula yang membacanya sebagai jejak konflik. Tidak ada yang sepenuhnya salah...