Tentang Awal Tahun, Sunyi, dan Keputusan untuk Bertumbuh
Awal tahun ini datang tanpa gegap gempita.
Tidak ada resolusi yang kutulis dengan penuh semangat, tidak ada daftar mimpi yang kupajang rapi. Yang ada hanya aku, libur semester yang panjang, dan kepala yang terasa lebih ramai dari biasanya.
Aku jadi lebih sering menjauh dari media sosial. Bukan karena aku ingin menghilang, tapi karena aku sedang menjaga diriku sendiri. Terlalu banyak hal di sana yang membuatku merasa kecil, tertinggal, dan diam-diam mempertanyakan nilainya diriku sebagai manusia.
Hari-hariku berjalan sederhana. Menonton, membeli makanan enak, rebahan, mendengarkan musik, membersihkan rumah, sesekali membaca novel dan menatap langit lebih lama dari seharusnya. Dari luar mungkin terlihat seperti kemalasan, padahal sebenarnya aku sedang kelelahan. Kelelahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bahkan kepada orang rumah.
Aku tahu, dari sudut pandang mereka, aku terlihat tidak bergerak ke mana-mana. Dan mungkin mereka benar. Tapi yang tidak terlihat adalah betapa aku sedang berusaha keras untuk tidak runtuh.
Di tengah fase itu, aku menemukan sebuah cerita. Sebuah tontonan yang diam-diam menyentuhku. Bukan karena kisah cintanya, melainkan karena sosok yang digambarkan hidup dengan tenang mengenal dirinya sendiri, mencintai hidupnya, berdamai dengan keadaan, dan berdiri dengan mental yang stabil.
Aku ingin seperti itu.
Bukan menjadi orang lain.
Tapi menjadi versi diriku yang lebih rapi dari dalam alias stabil.
Bukan menjadi orang lain.
Tapi menjadi versi diriku yang lebih rapi dari dalam alias stabil.
Keinginan itu membuatku jujur pada diriku sendiri. Tentang hal-hal yang selama ini kusembunyikan, bahkan dari pikiranku sendiri. Tentang cara-cara keliru yang pernah kupilih untuk bertahan. Tentang kebiasaan buruk yang membuatku semakin membenci diriku sendiri, merasa rendah, merasa tidak pantas dicintai.
Aku tidak menuliskannya untuk mengungkit luka. Aku hanya ingin mengakui bahwa luka itu pernah ada. Bahwa aku pernah salah, pernah tersesat, dan pernah lelah membenci diri sendiri.
Aku sudah berhenti menyakiti diriku secara fisik sejak beberapa tahun lalu. Dan meski perjuangan lain belum sepenuhnya selesai, hari ini aku lebih sadar. Lebih jujur. Lebih bertanggung jawab pada hidupku sendiri.
Di antara semua kekacauan itu, aku pernah bertemu seseorang. Seseorang yang, tanpa usaha apa pun, membuatku merasa ringan. Bukan karena dia menyelamatkanku, tapi karena di dekatnya aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa merasa rusak. Kami berbagi selera, berbagi obrolan, berbagi tawa, dan untuk sesaat aku merasa seperti manusia yang utuh.
Hidup, tentu saja, tidak selalu berjalan sesuai bayangan. Orang bisa datang, lalu melanjutkan hidupnya dengan orang lain. Dan itu tidak salah. Yang penting bagiku adalah satu hal: perasaan ringan itu nyata. Dan jika aku bisa merasakannya sekali, berarti aku bisa membangunnya lagi kali ini, dari dalam diriku sendiri.
Hari ini aku tidak menjanjikan kesembuhan instan. Aku masih bisa ragu, masih bisa jatuh, masih bisa merasa tertinggal. Tapi sekarang aku punya arah.
Aku ingin belajar mencintai diriku sendiri dengan lebih dewasa. Menata hidup pelan-pelan. Membangun mental yang lebih stabil, kebiasaan yang lebih sehat, dan keberanian untuk bicara, memilih, serta bertanggung jawab.
Aku ingin suatu hari nanti, entah dengan siapa pun yang hadir di hidupku, aku datang sebagai versi diriku yang tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri.
Tulisan ini bukan pengakuan dosa.
Ini penanda.
Bahwa aku pernah berada di titik paling sunyi, dan aku memilih untuk bergerak. Pelan-pelan. Dengan sadar. Dengan lebih lembut pada diri sendiri.
Aku mungkin belum sampai.
Namun hari ini, aku tidak lagi diam di tempat yang sama.
Dan itu sudah cukup untuk disebut bertumbuh.
Namun hari ini, aku tidak lagi diam di tempat yang sama.
Dan itu sudah cukup untuk disebut bertumbuh.
—
*Bumi 21, 2026
Ditulis di bawah langit malam, Aya🌙
Fragmen #07 - selesai.
Komentar
Posting Komentar