Postingan

Aku, yang Masih Berjalan

Aku menulis ini bukan karena hidupku telah rapi. Bukan pula karena semua luka sudah selesai dirapikan. Aku menulis ini karena, aku masih di sini. Beberapa waktu terakhir, hidup terasa berat, berisik, dan penuh hal-hal yang tak selalu bisa kujelaskan pada siapa pun. Ada hari-hari ketika lelah bukan datang dari langkah, melainkan dari pikiranku sendiri yang tak pernah benar-benar diam. Aku belajar, dengan cara yang sangat pelan, bahwa bertahan tidak selalu harus terlihat kuat. Kadang, bentuk bertahanku sesederhana ini: memilih diam, menahan satu reaksi, menggeser satu emosi, dan tetap mengerjakan hal kecil— meski hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aku mulai belajar hadir untuk diriku sendiri. Bukan untuk menyenangkan siapa pun. Bukan pula untuk terlihat baik-baik saja. Tetapi untuk jujur. Jujur bahwa aku lelah. Jujur bahwa aku sering bingung. Jujur bahwa aku belum sepenuhnya pulih. Dan jujur bahwa selama ini, aku terlalu sering memeluk semua bebanku sendirian. Aku juga mulai mengerti: t...

Artefak yang Tidak Pernah Menjawab

Aku datang dengan niat sederhana: melihat peninggalan masa lalu.  Tidak Lebih. Tidak kurang. Ruang itu sunyi, seperti sengaja dibiarkan kosong agar pengunjung bisa mendengarkan pikirannya sendiri. Di balik kaca, artefak-artefak tersusun rapi; diam, utuh, dan seolah tidak peduli pada siapa pun yang memandangnya. Aku berdiri cukup lama di depan salah satunya, lebih lama dari pengunjung lain. Bukan karena bentuknya paling menarik, tapi karena entah kenapa, ia membuatku merasa sedang ditatap balik. Dulu, aku selalu berpikir masa lalu itu tetap. Tugas kita hanya menemukannya, memahaminya, lalu menjelaskannya seakurat mungkin. Seperti membuka buku lama yang isinya sudah ditentukan sejak halaman pertama. Tapi di ruangan ini, pikiran itu mulai retak.  Artefak yang sama pernah dijelaskan dengan cara yang berbeda di buku, di kelas, bahkan di antara obrolan santai. Ada yang melihatnya sebagai bukti kejayaan , ada pula yang membacanya sebagai jejak konflik. Tidak ada yang sepenuhnya salah...

Tentang Awal Tahun, Sunyi, dan Keputusan untuk Bertumbuh

Awal tahun ini datang tanpa gegap gempita. Tidak ada resolusi yang kutulis dengan penuh semangat, tidak ada daftar mimpi yang kupajang rapi. Yang ada hanya aku, libur semester yang panjang, dan kepala yang terasa lebih ramai dari biasanya. Aku jadi lebih sering menjauh dari media sosial. Bukan karena aku ingin menghilang, tapi karena aku sedang menjaga diriku sendiri. Terlalu banyak hal di sana yang membuatku merasa kecil, tertinggal, dan diam-diam mempertanyakan nilainya diriku sebagai manusia. Hari-hariku berjalan sederhana. Menonton, membeli makanan enak, rebahan, mendengarkan musik, membersihkan rumah, sesekali membaca novel dan menatap langit lebih lama dari seharusnya. Dari luar mungkin terlihat seperti kemalasan, padahal sebenarnya aku sedang kelelahan. Kelelahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bahkan kepada orang rumah. Aku tahu, dari sudut pandang mereka, aku terlihat tidak bergerak ke mana-mana. Dan mungkin mereka benar. Tapi yang tidak terlihat adalah betapa aku...

di antara sunyi yang tetap bernapas

aku hanya ingin tenang. bukan karena aku lelah berjuang, tapi karena dunia terlalu berisik, dan kepalaku tak pernah berhenti bicara. aku berjalan di antara tumpukan harapan orang lain,  sambil pura-pura tahu arah. padahal setiap langkah terasa asing, seperti menjadi tamu di hidup sendiri. mereka bilang aku kuat, tapi tak ada yang tahu betapa sering aku berdamai dengan air mata yang jatuh tanpa alasan, atau mungkin dengan terlalu banyak alasan. aku tumbuh dalam rumah yang tak pernah selesai, dindingnya penuh cerita yang tak pernah diceritakan, pintu-pintunya menyimpan kenangan, yang hanya bisa kutatap dari jauh. aku belajar memanggil orang asing dengan kata "ayah" dan menahan kata "ibu" agar tidak keluar dalam bentuk tanya. aku menua dalam sunyi yang kupeluk erat, karena di sanalah satu-satunya tempat aku bisa diam, tanpa di hakimi. tapi kemudian aku sadar, bahwa diam pun bisa menyakitkan. bahwa bahkan kesepian pun punya cara sendiri untuk menjerit pelan. maka aku be...

Svara di Ujung Waktu

Aku tak mencari yang tergesa, Karena cinta bukan tentang cepat. Aku mencari yang sejalan, yang tumbuh, yang matang, yang menua bersama dengan tenang. Aku pernah menuliskan kriteria, tentang tinggi, tentang usia, tentang kebiasaan yang kucinta. Namun, waktu menertawakanku. Sebab yang kutemui  tak selalu sesuai dengan daftar itu. Dia bukan tanpa masa lalu, pernah jatuh, pernah tersesat. Tapi kini ia berjalan pulang, menyusun dirinya kembali, menjadi versi yang lebih baik. Dan entah mengapa, di titik itu aku berbisik: " mungkin ini dia." Aku tak menuntut kepastian sekarang. Biarlah ia menutup masa lalunya, Seperti aku pun masih belajar Mendewasakan diriku sendiri. Aku percaya, ada pertemuan yang disimpan waktu. Bukan hari ini, mungkin bukan esok. Tapi suatu saat, di saat kita benar-benar siap. Dan di antara banyak hal, ada satu yang paling membuatku luluh: caranya tersenyum pada anak kecil. Hangat, tulus, sederhana. Seperti ayah yang kelak ingin kupilih untuk anak-anakku. Svara ...

Pelukan Kecil untuk Malam yang Gelisah

Ada percakapan dan kalimat yang menyinggung hati dari salah satu novel favoritku, begini katanya: "Tidur ya malam ini, jangan terus-terusan dihantui masa lalu, jangan biarin kalut itu merusak kehidupan kamu, dan jangan biarin masa lalu bikin kamu gak bisa jalan maju untuk memulai kisah yang baru." Ucapnya lagi "Jangan mikir kalau hujan deras ganggu kamu untuk cepat pulang dan untuk nangis sendirian di kamar, kalau emang mau nangis sekarang dan rasanya udah gak bisa ditahan, yaudah nangis aja. Jangan kamu tahan sampai hujan reda, karena yang akan timbul cuma sesak dan luka." Ada kalanya, sebuah tulisan terasa seperti suara yang langsung mengetuk hati. Saat aku pertama kali membaca kalimat ini, rasanya seolah-olah seseorang benar-benar sedang bicara padaku; menenangkan, sekaligus mengingatkan bahwa resah dan gelisah bukan akhir dari segalanya. Mungkin kita semua pernah berada di titik itu: terjebak dalam malam yang panjang, sibuk dengan pikiran sendiri, lupa kalau es...

Pada Waktunya, Semua Akan Terjawab

Malam selalu punya caranya sendiri untuk membuat kita jujur dengan perasaan. Malam selalu membawa ruang untuk merenung. Dalam heningnya, kita sering mempertanyakan banyak hal: kenapa harus menunggu begitu lama, kenapa harus jatuh berulang kali, kenapa harus berjalan sendirian di jalan yang terasa begitu sunyi. Jawaban dari semua kenapa itu kadang hanya berupa kapan . Dan malam kembali mengingatkan. bahwa tidak semua hal harus segera terjawab sekarang. Ada waktunya, ada jalannya. Meski kata sabar  terdengar melelahkan, justru di situlah kita sedang ditempa.  Malam menjadi saksi bisu bahwa doa-doa yang kita bisikkan tak pernah sia-sia. Percayalah, suatu saat nanti, semua luka akan menemukan obatnya, semua lelah akan mendapatkan gantinya, dan semua yang terasa tak masuk akal hari ini, akan memiliki alasan yang indah. Dan ketika pagi tiba, kita akan menyadari; bahwa malam bukan hanya tentang gelap, tetapi juga tentang janji: bahwa semua akan terbayar pada waktunya.