di antara sunyi yang tetap bernapas
aku hanya ingin tenang. bukan karena aku lelah berjuang, tapi karena dunia terlalu berisik, dan kepalaku tak pernah berhenti bicara. aku berjalan di antara tumpukan harapan orang lain, sambil pura-pura tahu arah. padahal setiap langkah terasa asing, seperti menjadi tamu di hidup sendiri. mereka bilang aku kuat, tapi tak ada yang tahu betapa sering aku berdamai dengan air mata yang jatuh tanpa alasan, atau mungkin dengan terlalu banyak alasan. aku tumbuh dalam rumah yang tak pernah selesai, dindingnya penuh cerita yang tak pernah diceritakan, pintu-pintunya menyimpan kenangan, yang hanya bisa kutatap dari jauh. aku belajar memanggil orang asing dengan kata "ayah" dan menahan kata "ibu" agar tidak keluar dalam bentuk tanya. aku menua dalam sunyi yang kupeluk erat, karena di sanalah satu-satunya tempat aku bisa diam, tanpa di hakimi. tapi kemudian aku sadar, bahwa diam pun bisa menyakitkan. bahwa bahkan kesepian pun punya cara sendiri untuk menjerit pelan. maka aku be...