Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Pelukan Kecil untuk Malam yang Gelisah

Ada percakapan dan kalimat yang menyinggung hati dari salah satu novel favoritku, begini katanya: "Tidur ya malam ini, jangan terus-terusan dihantui masa lalu, jangan biarin kalut itu merusak kehidupan kamu, dan jangan biarin masa lalu bikin kamu gak bisa jalan maju untuk memulai kisah yang baru." Ucapnya lagi "Jangan mikir kalau hujan deras ganggu kamu untuk cepat pulang dan untuk nangis sendirian di kamar, kalau emang mau nangis sekarang dan rasanya udah gak bisa ditahan, yaudah nangis aja. Jangan kamu tahan sampai hujan reda, karena yang akan timbul cuma sesak dan luka." Ada kalanya, sebuah tulisan terasa seperti suara yang langsung mengetuk hati. Saat aku pertama kali membaca kalimat ini, rasanya seolah-olah seseorang benar-benar sedang bicara padaku; menenangkan, sekaligus mengingatkan bahwa resah dan gelisah bukan akhir dari segalanya. Mungkin kita semua pernah berada di titik itu: terjebak dalam malam yang panjang, sibuk dengan pikiran sendiri, lupa kalau es...

Pada Waktunya, Semua Akan Terjawab

Malam selalu punya caranya sendiri untuk membuat kita jujur dengan perasaan. Malam selalu membawa ruang untuk merenung. Dalam heningnya, kita sering mempertanyakan banyak hal: kenapa harus menunggu begitu lama, kenapa harus jatuh berulang kali, kenapa harus berjalan sendirian di jalan yang terasa begitu sunyi. Jawaban dari semua kenapa itu kadang hanya berupa kapan . Dan malam kembali mengingatkan. bahwa tidak semua hal harus segera terjawab sekarang. Ada waktunya, ada jalannya. Meski kata sabar  terdengar melelahkan, justru di situlah kita sedang ditempa.  Malam menjadi saksi bisu bahwa doa-doa yang kita bisikkan tak pernah sia-sia. Percayalah, suatu saat nanti, semua luka akan menemukan obatnya, semua lelah akan mendapatkan gantinya, dan semua yang terasa tak masuk akal hari ini, akan memiliki alasan yang indah. Dan ketika pagi tiba, kita akan menyadari; bahwa malam bukan hanya tentang gelap, tetapi juga tentang janji: bahwa semua akan terbayar pada waktunya.

Kapal yang Tak Pernah Berlabuh

Dan kau tak akan pernah mengerti, Betapa aku lebih memilih menjadi sia-sia, Daripada melupakanmu. Dirimu yang sekarang, Sangat sulit untuk digapai, Seperti perhatian yang tak pernah sampai. " Bagaimana kabarmu hari ini?" Ah, sudahlah — Mendapatkan kabar darimu begitu sulit, Seperti mendaratkanmu yang tak pernah bisa. Tolong, jangan mempersulit segalanya. Kapalku hampir tenggelam, Bahkan mungkin tak akan sampai ke pelabuhan. Haruskah aku kembali hidup di tengah harapan? Atau kembali tenggelam di gelapnya lautan? Cahaya paling benderang pun tak lagi kulihat darimu. Perahu yang kau arahkan ke pelabuhanku, Hilang terbawa ombak— lenyap tanpa jejak. Aku tak mau menjadi bebanmu, Tak mau jika pandanganmu padaku, Hanya mengingatkan pada luka lama, Yang seharusnya sudah di lupakan. Kata maaf tak pernah cukup Untuk mengobati luka— Baik punyamu, maupun punyaku. Jika memang dia adalah takdirmu, Maka aku hanyalah kapal yang singgah, Tidak menetap, Dan harus kembali tenggelam sebelum berlab...

Separuh Detik Sebelum Jatuh

Aku tahu mimpi tidak dekat dengan kenyataan, Tapi kadang aku menukarnya karena ekspektasiku rendah, Toleran dengan sisi ganda. Sayang sekali aku belum menunjukkan sisiku yang lain. Koin di lempar— Hasilnya adalah apa yang kulihat sebelum mendarat. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan, Bahkan jika mungkin itu bukan saat yang paling mendesak. Aku harus tahu jalanku, Bukan yang lebih lambat. Simpan pikiranmu, untuk dirimu sendiri. dan aku akan menyimpan pikiranku; Dalam sebuah lagu atau puisi. Mark.