di antara sunyi yang tetap bernapas

aku hanya ingin tenang.
bukan karena aku lelah berjuang,
tapi karena dunia terlalu berisik,
dan kepalaku tak pernah berhenti bicara.

aku berjalan di antara tumpukan harapan orang lain, 
sambil pura-pura tahu arah.
padahal setiap langkah terasa asing,
seperti menjadi tamu di hidup sendiri.

mereka bilang aku kuat,
tapi tak ada yang tahu
betapa sering aku berdamai dengan air mata
yang jatuh tanpa alasan,
atau mungkin
dengan terlalu banyak alasan.

aku tumbuh dalam rumah yang tak pernah selesai,
dindingnya penuh cerita yang tak pernah diceritakan,
pintu-pintunya menyimpan kenangan,
yang hanya bisa kutatap dari jauh.

aku belajar memanggil orang asing dengan kata "ayah"
dan menahan kata "ibu"
agar tidak keluar dalam bentuk tanya.

aku menua dalam sunyi yang kupeluk erat,
karena di sanalah satu-satunya tempat
aku bisa diam,
tanpa di hakimi.

tapi kemudian aku sadar,
bahwa diam pun bisa menyakitkan.
bahwa bahkan kesepian
pun punya cara sendiri untuk menjerit pelan.

maka aku belajar berjalan lagi,
bukan karena sudah kuat,
tapi karena tetap diam berarti;
mati perlahan.

ada hari-hari di mana aku hampir menyerah,
tapi sesuatu, entah apa,
membuatku tetap bangun,
meski dengan mata berat
dan hati hancur.

aku mulai mengenali diriku,
yang tidak sempurna,
yang tidak tahu arah,
tapi tetap memilih hidup,
meski kadang hanya setengah sadar.

aku berhenti menuntut dunia untuk mengerti,
karena mungkin tugasnya hanya memberi ruang,
bukan pemahaman.

dan aku berhenti marah pada diriku sendiri,
atas semua yang tidak berjalan seperti rencana.

mungkin tidak semua luka harus sembuh.
beberapa cukup diterima
sebagai tanda bahwa aku pernah bertahan.

jadi, kalau malam datang membawa sunyi,
aku tak lagi sembunyi,
aku biarkan ia duduk di sampingku,
menatapku yang masih belajar tertawa lagi,
lalu berbisik pelan:

"lihat, kamu masih di sini,
dan itu pun sudah hebat."

dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
aku tidak merasa sendirian




*Bumi  22,  2025

Ditulis di bawah langit malam, Aya🌙




Fragmen #06 — selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Separuh Detik Sebelum Jatuh

Tentang Awal Tahun, Sunyi, dan Keputusan untuk Bertumbuh

Kapal yang Tak Pernah Berlabuh