Kapal yang Tak Pernah Berlabuh
Dan kau tak akan pernah mengerti,
Betapa aku lebih memilih menjadi sia-sia,
Daripada melupakanmu.
Dirimu yang sekarang,
Sangat sulit untuk digapai,
Seperti perhatian yang tak pernah sampai.
"Bagaimana kabarmu hari ini?"
Ah, sudahlah—
Mendapatkan kabar darimu begitu sulit,
Seperti mendaratkanmu yang tak pernah bisa.
Tolong, jangan mempersulit segalanya.
Kapalku hampir tenggelam,
Bahkan mungkin tak akan sampai ke pelabuhan.
Haruskah aku kembali hidup di tengah harapan?
Atau kembali tenggelam di gelapnya lautan?
Cahaya paling benderang pun tak lagi kulihat darimu.
Perahu yang kau arahkan ke pelabuhanku,
Hilang terbawa ombak—
lenyap tanpa jejak.
Aku tak mau menjadi bebanmu,
Tak mau jika pandanganmu padaku,
Hanya mengingatkan pada luka lama,
Yang seharusnya sudah di lupakan.
Kata maaf tak pernah cukup
Untuk mengobati luka—
Baik punyamu, maupun punyaku.
Jika memang dia adalah takdirmu,
Maka aku hanyalah kapal yang singgah,
Tidak menetap,
Dan harus kembali tenggelam sebelum berlabuh.
Aku beruntung bisa mengenalmu,
Tapi dia lebih beruntung;
Karena bisa memilikimu.
Bukankah bulannya terlihat tidak baik-baik saja malam ini?
*Bumi 23, 2025
Ditulis di bawah langit malam, Aya🌙
Fragmen #02 — selesai.
Komentar
Posting Komentar