Aku, yang Masih Berjalan

Aku menulis ini bukan karena hidupku telah rapi.
Bukan pula karena semua luka sudah selesai dirapikan.

Aku menulis ini karena,
aku masih di sini.

Beberapa waktu terakhir, hidup terasa berat, berisik, dan penuh hal-hal yang tak selalu bisa kujelaskan pada siapa pun.
Ada hari-hari ketika lelah bukan datang dari langkah,
melainkan dari pikiranku sendiri yang tak pernah benar-benar diam.

Aku belajar, dengan cara yang sangat pelan,
bahwa bertahan tidak selalu harus terlihat kuat.

Kadang, bentuk bertahanku sesederhana ini:
memilih diam,
menahan satu reaksi,
menggeser satu emosi,
dan tetap mengerjakan hal kecil—
meski hatiku sedang tidak baik-baik saja.

Aku mulai belajar hadir untuk diriku sendiri.
Bukan untuk menyenangkan siapa pun.
Bukan pula untuk terlihat baik-baik saja.

Tetapi untuk jujur.

Jujur bahwa aku lelah.
Jujur bahwa aku sering bingung.
Jujur bahwa aku belum sepenuhnya pulih.
Dan jujur bahwa selama ini, aku terlalu sering memeluk semua bebanku sendirian.

Aku juga mulai mengerti:
tenang bukan berarti tak ada masalah.
Tenang adalah saat aku berhenti berperang dengan diriku sendiri.

Sekarang aku belajar lebih hati-hati pada caraku merespons.
Aku belajar menunda reaksi.
Aku belajar mendengarkan isi kepalaku
sebelum membiarkan suara di luar menguasai hatiku.

Dan untuk pertama kalinya, setelah waktu yang panjang,
aku merasa sedikit lebih dekat dengan diriku sendiri.

Bukan versi yang sempurna.
Hanya versi yang mau jujur, mau belajar,
dan tetap memilih bertahan.

Tulisan ini bukan tentang masa depan yang sudah terang.
Ia hanya tentang satu titik kecil dalam hidupku—

bahwa aku bisa sampai di sini.

Dan untuk saat ini,
itu sudah lebih dari cukup untuk kubanggakan.


*Bumi  03,  2026

Ditulis di bawah langit malam, Aya🌙


Fragmen #09 - selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Separuh Detik Sebelum Jatuh

Tentang Awal Tahun, Sunyi, dan Keputusan untuk Bertumbuh

Kapal yang Tak Pernah Berlabuh